ads

ads

Slider[Style1]

Style2

Style3[OneLeft]

Style3[OneRight]

Style4

Style5

Tahukah Anda? Agama Masyarakat Suku Nias

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AGAMA DI PULAU NIAS

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN AGAMA DI PULAU NIAS

Nias Sweet Home - Lani, Langi Tradisi lisan Nias sering berbicara tentang langit (lani, langi), tentang lapisan langit yang satu (lani si sara wenaita), ada juga langit yang berlapis sembilan (lani si siwa wenaita) dan tentang seorang leluhur yang bernama satu langit (lani sagörö) atau langit yang satu itu (lani sisagörö). Nama ini dulu sebenarnya bukan Lowalani melainkan Lawalani artinya yang ada di atas langit. Bahasa sehari-hari di Nias Selatan sampai sekarang tetap mempertahankan kebiasaan lama dan mengatakan lawa (atas) dan bukan seperti Nias Utara yang menyebutnya yawa (atas). Pemakaian istilah Lowalangi sebenarnya dipopulerkan oleh seorang misionaris Denniger pada tahun 1865. Ia memilih kata Lowalangi sebagai nama Allah bagi pengikut ajaran Kristen di Nias. Ada kemungkinan saat itu ia belum mengetahui sebutan tradisi Lawalani di Nias Selatan. Walaupun demikian istilah ini diterima juga oleh orang Nias Selatan yaitu yang berada di atas langit.
Menurut versi Pastor Johannes M. H. Orang Nias tidak mengharapkan firdaus dalam hidup yang akan datang, tidak pula suatu neraka. Baik hukuman maupun imbalan tidak mereka harapkan. Karena orang Nias percaya, bahwa semuanya akan berakhir. Maka orang Nias tidak takut akan sesuatu dan mengharapkan sesuatu. Hanya inilah yang merupakan imbalan atau hukuman bagi orang Nias. Mereka yang sudah meninggal dipandang terhormat dan terburuk. Selain itu mereka pasrah saja pada nasib mereka dengan hati tenang.
Akan tetapi, versi ini diragukan kebenarannya karena pada kenyataanya orang Nias masih percaya pada arwah leluhur dan peranannya bagi kehidupan. Bisa dilihat dari patung-patung (Nadu) yang dianggap sebagai tempat roh leluhur bisa hadir. Selain itu, konsep tentang adanya dunia orang mati juga dipercaya yaitu Tetehõli ana’a.

Bagi orang Nias, setelah meninggal semuanya akan punah. Manusia yang meninggal akan menjadi makanan cacing dan lalat yang besar (ö gulö-kulö, ö deteho) seperti dinyanyikan dalam Hoho yang tertinggal hanyalah ”Nama kebesaran” (töi sebua) dan ”kemuliaan” (lakhömi). Sasaran dari pesta-pesta besar (owasa fatome) yang dirayakan di Nias pada zaman dulu adalah untuk mendapat nama yang mulai (töi so-lakhömi).
Agama Asli Orang Nias”Pĕlĕbĕgu adalah nama agama asli diberikan oleh pendatang yang berarti ”penyembah ruh”. Nama yang dipergunakan oleh penganutnya sendiri adalah molohĕ adu (penyembah adu). Sifat agama ini adalah berkisar pada penyembahan ruh leluhur.” Meskipun tidak ada konsep kehidupan setelah kematian menurut versi Pastor Johannes M.H, tapi dalam kepercayaan ini terdapat praktik penyembahan roh-roh para leluhur (animisme). Para leluhur itu perlu dikenang, terutama atas jasa-jasa mereka (Nama Besar dan Kemuliaan). Kepercayaan ini termanisfestasi dalam bentuk adu. Orang Nias percaya bahwa patung-patung (adu) itu akan ditempati oleh roh-roh leluhur mereka, karena itu harus dirawat dengan baik.

Klik disini untuk mendapatkan artikel Menarik tentang Dunia Komputer

”Menurut kepercayaan umat Pĕlĕbĕgu, tiap orang mempunyai dua macam tubuh, yaitu tubuh kasar (boto) dan tubuh halus. Tubuh halus terbagi dua, yaitu noso (nafas) dan lumõmõ-lumõ (bayangan). ”Jika orang mati botonya kembali menjadi debu, nosonya kembali pada Lowalangi (Allah). Sedangkan lumõ-lumõnya berubah menjadi bekhu (roh gentayangan)”. Orang Nias percaya, selama belum ada upacara kematian, bekhu ini akan tetap berada di sekitar jenazahnya atau kuburannya. Agar bisa kembali ke Tetehõli ana’a (dunia roh), setiap roh harus menyeberangi suatu jembatan antara dunia orang hidup dan dunia orang mati. Dalam perjalanan itu, semakin roh itu berjalan, jembatannya semakin mengecil bahkan sampai sekecil rambut. Hal itu akan dialami oleh roh-roh yang banyak melakukan kejahatan selama hidupnya. Akhirnya ia akan jatuh dan masuk ke dalam api yang menyala-nyala. Akan tetapi, bila selama hidupnya ia baik, jembatannya tidak menyempit sehingga perjalanan mulus dan sampai ke Tetehõli ana’a.

Dalam paham agama asli ini, roh tersebut jika sudah sampai ke dunianya, akan melanjutkan kembali hidupnya seperti di dunia ini. Kalau dulu semasa hidup dia seorang raja maka di dunia seberang (Tetehõli ana’a) juga ia akan tetap menjadi raja dan yang miskin akan tetap miskin di dunia seberang nanti. Dunia Tetehõli ana’a ini keadaanya ”terbalik”. Apa yang baik di dunia ini, di sana akan jadi buruk. Maka ada kebiasan, orang-orang Nias, bila menitipkan baju dan barang-barang lainnya, semua barang itu dirusak. ”Pebedaan dunia sana dengan dunia sini hanya terletak pada keadaan ”terbalik”, yaitu jika di sini siang di sana malam demikian juga kalimiat dalam bahasa di sana adalah serba terbalik.”


Semoga Bermanfaat.

Suku Nias


Suku Nias
Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias. Dalam bahasa aslinya, orang Nias menamakan diri mereka "Ono Niha" (Ono = anak/keturunan; Niha = manusia) dan pulau Nias sebagai "Tanö Niha" (Tanö = tanah).

Silahkan juga berkunjung disini untuk yang suka dunia komputer

Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam lingkungan adat dan kebudayaan yang masih tinggi. Hukum adat Nias secara umum disebut fondrakö yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Masyarakat Nias kuno hidup dalam budaya megalitik dibuktikan oleh peninggalan sejarah berupa ukiran pada batu-batu besar yang masih ditemukan di wilayah pedalaman pulau ini sampai sekarang.
Kasta : Suku Nias mengenal sistem kasta(12 tingkatan Kasta). Dimana tingkatan kasta yang tertinggi adalah "Balugu". Untuk mencapai tingkatan ini seseorang harus mampu melakukan pesta besar dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ribuan ekor ternak babi selama berhari-hari

Asal Usul Nias

Asal Usul Suku Nias
I. Latar belakang

Suku Nias adalah kelompok masyarakat yang hidup di pulau Nias.[1] Orang Nias menyebut diri mereka sebagai Ono Niha (anak manusia). Kemudian pulau Nias disebut sebagai Tanő Niha (tanah manusia). Suku Nias adalah masyarakat yang hidup dalam hukum adat dan kebudayaan yang sangat kental. Hukum adat Nias secara umum disebut fodrakő yang mengatur segala segi kehidupan mulai dari kelahiran sampai kematian. Jauh sebelumnya, masyarakat Nias primitif hidup dalam budaya megalitik. Hal ini terlihat dari peninggalan sejarah seperti artefak-artefak yang masih ditemukan di banyak wilayah pedalaman pulau Nias sampai sekarang ini.

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar dunia Komputer...

asal usul suku nias


Masyarakat Nias juga mengenal sistem kasta. Ada dua belas tingkatan kasta. Dari tingkatan kasta yang ada, yang tertinggi adalah “Balugu”. Untuk mencapai tingkatan ini, seseorang harus mampu mengadakan pesta besar selama berhari-hari dengan mengundang ribuan orang dan menyembelih ratusan/ekor babi. Biasanya orang-orang yang melakukan ini adalah mereka yang memiliki harta dan emas.

a). Mitologi:Menurut masyarakat Nias, dalam sebuah mitos, orang Nias berasal dari sebuah pohon kehidupan yang disebut Sigaru Tora’a yang terletak disebuah tempat yang bernama Tetehőli ana’a. Mitologi Nias ini terdapat dalam hoho[2]. Dalam hoho diceritakan bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Lowalangi[3] (Untuk selanjutnya saya lebih suka menggunakan istilah ”pencipta”) dari beberapa warna udara yang ia aduk dengan tongkat yang bernama sihai[4]. Dewa pencipta terlebih dahulu menciptakan pohon kehidupan yang disebut Sigaru Tora’a. Pohon ini berbuah dua butir buah yang segera dierami oleh seekor laba-laba emas. Kemudian lahirlah sepasang dewa pertama, yang dinamakan Tuhamora’aangi Tuhamoraana’a berjenis kelamin laki-laki dan Burutiroangi Burutiraoana’a berjenis kelamin perempuan.[5] Keturunan mereka inilah yang kemudia dikenal sebagai dewa Sirao Uwu Zihõnõ sebagai rajanya.

Asal Usul Suku Nias
Mitos asal usul masyarakat Nias pun, dimulai sejak zaman raja Sirao. Dewa ini memiliki tiga istri yang masing-masing beranak tiga putra. Di antara kesembilan putranya ini timbul pertengkaran yang sengit, yaitu mereka memperebutkan tahta Raja Sirao ayah mereka. Melihat situasi ini, Sirao mengadakan sayembara di antara putra-putranya. Intinya, siapapun yang mampu mencabut tombak (toho) yang telah dipancangkan di lapangan depan istana itulah yang berhak menggantikan-nya. Satu persatu putranya mulai dari yang tertua datang mencoba mencabut tombak tersebut. Tapi tak satupun berhasil. Kemudian anak yang paling bungsu yang bernama Luo Mĕwõna[6] (Lowalangi) datang mencabutnya dan akhirnya berhasil.

Kakak-kakaknya yang kalah dalam sayembara tersebut diasingkan dari Tetehõli ana’a, dan dibuang ke bumi, tepatnya di pulau Nias. Dari kedelapan putra Sirao yang dibuang ke dunia (Pulau Nias) hanya empat orang yang dapat sampai di empat tempat di pulau Nias dengan selamat dan akhirnya menjadi leluhur orang Nias. Ke-empat orang lainnya mengalami kecelakaan. Baewadanõ Hia karena terlalu berat, jatuh menembus bumi dan menjelma menjadi ular besar yang bernama Da’õ Zanaya Tanõ sisagõrõ[7] (dialah yang menjadi alas/fondasi seluruh bumi). Jika dia bergerak sedikit saja, maka bumi akan bergoncang dan terjadilah gempa bumi. Agar dapat hidup, naga ini diberi makan oleh burung setiap hari.Yang lain jatuh ke dalam air dan menjadi hantu sungai, pujaan para nelayan. Dia sering disebut hadroli[8]. Ada yang terbawa angin, dan akhirnya tersangkut di pohon dan menjelma menjadi hantu hutan, pujaan para pemburu. Makluk ini sering disebut ”Bela”[9]. Ada juga yang jatuh di daerah Laraga yang kondisi tanahnya penuh batu-batu (12 Km dari Gunung Sitoli) menjadi leluhur orang-orang berilmu kebal.

b). Penelitian ArkeologiTelah dilakukan di Pulau Nias sejak tahun 1999 dan hasilnya ada yang dimuat di Tempointeraktif[10] dan di Kompas,[11] Rabu 4 Oktober 2006 Rubrik Humaniora menemukan bahwa sudah ada manusia di Pulau Nias sejak 12.000 tahun silam yang bermigrasi dari daratan Asia ke Pulau Nias pada masa paleolitik, bahkan ada indikasi sejak 30.000 tahun lampau kata Prof. Harry Truman Simanjuntak dari Puslitbang Arkeologi Nasional dan LIPI Jakarta. Pada masa itu hanya budaya Hoabinh, Vietnam yang sama dengan budaya yang ada di Pulau Nias, sehingga diduga kalau asal-usul Suku Nias berasal dari daratan Asia di sebuah daerah yang kini menjadi negara yang disebut Vietnam.[12]

Marga Suku Nias: Suku Nias terdiri dari beberapa marga diantaranya : Amazihönö, Beha, Baene, Bate’e, Bawamenewi, Bawaniwao, Bawo, dan masih banyak lagi. Fungsi marga adalah menunjukkan garis keturunan dan asal seseorang. Termasuk mengenal famili, sejauh mana garis keturunan dan bisa tau tidak mereka menikah.

Sumber www.wikipedia.co

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar dunia Komputer

Bahasa Nias

Bahasa Nias

Bahasa adalah konvensi. Itulah pernyataan yang sering kita dengar yang berkaitan dengan pemunculan istilah atau kebiasaan berbahasa dalam bahasa apa pun. Maka, suatu istilah baru dapat saja muncul, sejauh disepakati, diterima oleh penutur bahasa itu, meskipun itu terkadang bertentangan dengan kaidah-kaidah umum bahasa yang bersangkutan. Konvensi adalah salah satu cara melalui mana suatu bahasa berkembang. Konvensi biasanya dimunculkan oleh 'komunitas' yang mempunyai pengaruh tertentu karena keahliannya, dominasi ekonomi atau sosialnya, atau karena kegiatan khusus tertentu yang digumuli, dan sebagainya.

Klick disini untuk mengenal lebih jauh tentang bahasa nias

Dalam bahasa apapun, konvensi semacam itu lumrah saja muncul, termasuk juga dalam Li Niha. Akan tetapi berkaitan dengan yang terakhir ini ('konvensi' dalam Li Niha), agaknya kita perlu melihat apa yang terjadi sekitar 20 - 30 tahun silam, yang sebenarnya masih juga terjadi hingga saat ini.
Ketika penulis menempuh pendidikan di Gunung Sitoli antara tahun 1972 - 1974, ada suatu kejadian 'kecil' yang selalu 'mengganjal' hati penulis, tetapi waktu itu menyikapinya secara pragmatis: mendiamkannya saja. Kisah ini berkaitan dengan bagaimana cara teman-teman yang bukan orang Nias belajar Li Niha.

Cara paling umum ialah mereka menanyakan arti kata-kata Li Niha satu per satu dan menghafalnya. Lalu berbekalkan kata-kata lepas itu, mereka mulai 'memperlihatkan' kemampuannya berbahasa Nias. Jadi, dengan mengetahui bahwa: saya = ya'odo, pergi = möi, ba = ke, sekolah = sekola, mereka memunculkan sebuah struktur kalimat Li Niha ala anak kecil yang baru belajar berkata-kata, sebagai berikut: Ya'odo möi ba sekola - (maksudnya: Möido ba zekola - Saya pergi ke sekolah). Lalu, dengan mengetahui bahwa: tidak = lö'ö, baik = sökhi, kelakuan = amuata, kamu/engkau = ya'ugö, munculllah: (maksudnya: Lö sökhi amuata ya'ugöLö sökhi gamuatau - tidak baik kelakuanmu).

Biasanya, struktur kalimat Li Niha yang tidak biasa itu menjadi bahan tertawaan Ono Niha. Dan pada umumnya, struktur asing itu akan tetap melekat dalam ingatan mereka hingga mereka meninggalkan Pulau Nias, karena tidak ada yang membetulkan.

Ada banyak alasan mengapa reaksi kita (baca: kami ketika itu) hanya sebatas menertawakan atau memperolok-olok. Yang pertama ialah: keterbatasan penguasaan bahasa Indonesia, sehingga kami tidak mampu menjelaskan hal-hal yang memang kompleks seperti itu kepada mereka. Harap dimaklumi, pada umumnya anak-anak desa yang belajar di Gunungsitoli ketika itu, baru mulai memakai bahasa Indonesia ketika menempuh pendidikan di Gunungsitoli.

Kedua, kami juga bukan ahli bahasa Nias sehingga tidak mudah memberikan penjelasan yang memuaskan, meski pun tahu bahwa hal itu tidak pas, tidak tepat, lö fagöna, lö faudu, lö enahöi.

Alasan ketiga, memang dalam diri kami belum tumbuh (lebih tepat: tidak ditumbuhkan) sikap peduli (konsen), sikap memiliki dan menghargai Li Niha. Bahkan penguasaan Li Niha secara fasih - dalam arti: mengikuti kaidah-kaidah bahasa dan pengucapan Li Niha yang asli - dikaitkan dengan keterbelakangan dalam segala aspek kehidupan. Sekadar contoh, di kala itu, tidak jarang anak-anak desa diperolok-olok, bahkan juga oleh anak-anak Ono Niha sendiri, karena tidak dapat melafalkan huruf "d" ala Bahasa Indonesia (Lihat artikel Bunyi Huruf "D" Dalam Li Niha).

Apa yang menjadi kerisauan kita sebenarnya ?
Yang menjadi kerisauan kita ialah: bahwa 'bangunan' Bahasa Nias yang kita warisi itu mulai 'porak-poranda' oleh 'konvensi' yang dipaksakan dari luar. Kaidah-kaidah Bahasa Nias yang keliru yang secara tak sengaja dimunculkan oleh orang lain tidak pernah merisaukan kita. Yang lebih menyedihkan adalah proses 'pembiaran' yang kita lakukan: kita tidak memprotes ketika nama atau marga kita di KTP ditulis secara salah, kita selalu 'memaklumi' penulisan yang salah kata-kata Li Niha oleh orang lain tanpa pernah berusaha mengoreksinya.

Kehadiran kaset-kaset lagu pop Nias di satu pihak membanggakan kita, tetapi di pihak lain menjadi lahan yang subur untuk menyebarkan berbagai kekeliruan penulisan bahasa Nias yang sebenarnya tak perlu terjadi.

Kini, setiap kali berjumpa dengan orang-orang yang pernah menginjakkan kakinya di Nias, kita tentu tidak jarang menelan rasa 'jengkel' apabila yang bersangkutan menyapa kita dengan ramahnya, sambil mengucapkan kata-kata Nias dalam kalimat dengan struktur dan gaya buatan mereka sendiri dan tanpa arti yang jelas seperti: Manere-nere si alabe ..., atau menyapa kita dengan salam khas kita "Ya'ahowu" tetapi dengan pengucapan gaya baru: Yahobu. Atau membiarkan pengucapan marga kita "dimodifikasi" sehingga muncul marga-marga "generasi baru" Ono Niha ciptaan orang luar: Bulolo, Bulele, Daki, Daci, Gule, Jay, Halewa, Lahiya, Sega, Talaubanua, Saluku dan sebagainya.

Berbagai keprihatinan yang berkaitan dengan nasib Li Niha berpulang kepada kita semua. Kita Ono Niha-lah, yang memutuskan apakah 'konvensi' yang dipaksakan dari luar itu kita terima begitu saja ... kitalah yang harus mengambil sikap MENOLAK terhadap 'konvensi-konvensi' baru yang bukannya memperkaya Li Niha secara sehat, tetapi justru meracuninya.

Thx semoga bermanfaat.....!
ttd Komunitas Belajar Komputer...

Marga Orang Nias

(A)
Amazihönö
(B)
Baeha, Baene, Bate'e, Bawamenewi, Bawaniwa'ö, Bawö, Bali, Bohalima, Bu'ulölö, Buaya, Bunawölö, Bulu'aro, Bago, Bawaulu, Bidaya, Bulolo
(D)
Dachi (terkadang di tulis Dakhi), Daeli, Dawölö, Daya, Dohare, Dohöna, Duha, Duho
(F)
Fau, Farasi, Finowa'a, Fakho, Fa'ana,Famaugu
(G)
Gaho, Garamba, Gea, Ge'e, Giawa, Gowasa, Gulö, Ganumba, Gaurifa, Gohae, Gori, Gari
(H)
Halawa, Harefa, Haria, Harita, Hia, Hondrö, Hulu, Humendru, Hura, Hoya
(L)
Lafau, Lahagu, Lahömi, La'ia, Luaha, LaolI, Laowö, Larosa, Lase, Lawölö, Lo'i, Lömbu, Lamölö, Lature, Luahambowo, lazira, Lawolo,Lawelu, Laweni, lasara,laeru,
(M)
Maduwu, Manaö, Maru'ao, Maruhawa, Marulafau, Mendröfa, Mangaraja, Maruabaya, Möhö, Marundruri
(N)
Nazara, Ndraha, Ndruru, Nehe, Nakhe, Nadoya, Nduru
(S)
Sadawa, Saoiagö, Sarumaha, Sihönö, Sihura, Sisökhi, Saota
(T)
Taföna'ö, Telaumbanua, Talunohi, Tajira
(W)
Wau, Wakho, Waoma, Waruwu, Wehalö, Warasi, Warae, Wohe
(Z)
Zagötö, Zai, Zalukhu, Zamasi, Zamago, Zamili, Zandroto, Zebua, Zega, Zendratö, Zidomi, Ziliwu, Ziraluo, Zörömi, Zalögö, Zamago


Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar dunia Komputer

Kalau ada yang belum tertera di atas silahkan ditambahkan di  di kolom komentar di bawah ini.

Kamu Harus Tahu Lompat Batu dari Suku Nias


Lompat Batu Suku Nias

Lompat Batu Asli Dari Suku Nias (Ono Niha)

Nias Sweet Home - Tradisi Lompat Batu atau Fahombo adalah tradisi yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 meter. Lompat batu adalah upacara adat dari provinsi Sumatera Utara, Tradisi Lompat Batu ini berasal dari Kabupaten Nias, Sumatera Utara. Lompat batu (hombo batu)  merupakan tradisi yang sangat populer pada masyarakat Nias di Kabupaten Nias. Tradisi lompat batu sudah dilakukan sejak jaman para leluhur untuk berlatih perang. Sebab, nenek moyang di Pulau Nias sering perang antar suku. Masyarakat Nias pada saat itu memang terkenal keras dan sering dikatakan bangsa sparta indonesia dikarenakan budaya bertarung yang sangat tangguh sehingga selalu mempersiapkan diri dengan baik setiap kali mau ada perang.

SPARTA VERSI INDONESIA

Nah, lompat batu ini berguna sebagai latihan fisik para pemuda di Nias supaya kuat dan mampu menembus benteng lawan yang konon cukup tinggi untuk dilompati.Tradisi ini berkembang sehingga berubah fungsinya karena perang antar suku sudah tidak ada lagi zaman sekarang. Saat ini, tradisi lompat batu  digunakan sebagai salah satu bentuk ritual upacara dan simbol budaya  masyarakat Nias.

 
 Sumber www.youtube.com

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar dunia Komputer

Tradisi lompat batu saat ini dilakukan oleh para pemuda sebagai penanda bahwa ia sudah dewasa. Dengan melakukan tradisi tersebut, mereka akan diakui sebagai lelaki pemberani, telah memenuhi syarat untuk menikah. Selain itu kebanggaan tidak hanya bagi si pemuda itu sendiri, keluarga juga akan merasa bangga jika anaknya mampu melakukan Fahombo. Sehingga keluarga akan menyembelih beberapa ekor ternak. Hingga sekarang pun kita dapat melihat atraksi lompat batu ini jika berkunjung ke Desa Bawo Mataluo (Bukit Matahari) atau di Desa Bawomataluo, Kabupaten Nias Selatan

Saohagolo.
Nias Sweet Home

Tari Perang Suku Nias Yang Terkenal

Tari Perang Suku Nias

Salah Satu Tarian Tradisional Suku Nias Yang Terkenal

Nias Sweet Home - Tari Perang merupakan bagian dari tradisi khas Nias yang berhubungan erat dengan Lompat Batu Nias, karena lahirnya berbarengan dengan tradisi Hombo Batu. Dahulu kala Suku Nias sering berperang antar suku. Biasanya pemicu perang adalah perebutan lahan atau bahkan perebutan kekuasaan. Seperti halnya sistem kepemimpinan kampung yang dipimpin seorang kepala desa atau kepala suku. Dahulu setiap kampung di Nias juga dipimpin oleh seorang kepala suku yang disebut Si'ulu yang berarti bangsawan. Demi mempertahankan kekuasaan dan ketentraman warga kampungnya dari serangan suku lain, setiap Si’ulu berinisiatif mengumpulkan pemuda desa untuk dilatih berperang. Jenis latihan yang diberikan oleh Si’ulu adalah melatih kekuatan fisik, seperti kemampuan Lompat Batu (Hombo Batu) para pemuda dan melatih kelincahan pemuda dengan peragaan alat perang. Jika mereka dapat melompati batu setinggi 2 meter yang dibentuk dari tumpukan batu tersebut serta mampu menggunakan peralatan perang dengan sempurna, maka mereka dinggap mampu menjadi prajurit perang. Jadi secara tidak langsung tradisi Lompat Batu dan Tari Perang ini terlahir dari konflik perang.

Artikel Menarik 

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar Dunia Komputer

Tari Perang Suku Nias Yang Terkenal

Nias Sweet Home - Untuk merayakan kelulusan pemuda dari ujian tersebut, Si’ulu mengadakan pesta dengan memotong ternak dan kemudian mengumumkan pada warga kampung mengenai pasukan Perang yang sudah terbentuk. Si’ulu membentuk prajurit tidak hanya untuk keperluan pertahanan kampung, tetapi juga untuk kegiatan lainya yang berhubungan dengan kegiatan adat. Dibawah Ini Video Tari Perang Suku Nias.
Seiring dengan perkembangan zaman dan kesadaran individu, prajurit atau pasukan perang sudah tidak difungsikan lagi. Melainkan hal ini dijadikan sebagai simbolis dan atraksi budaya Nias.
Dalam menarikan tarian perang ini, penari mengenakan pakaian warna warni terdiri dari warna hitam, kuning dan merah, dilengkapi dengan mahkota di kepala. Layaknya kesatria dalam peperangan. Penari juga membawa Tameng (baluse), Pedang (gari) dan Tombak (toho) sebagai alat pertahanan dari serangan musuh. Tameng yang digunakan terbuat dari kayu bebentuk seperti daun pisang berada di tangan kiri berfungsi untuk menangkis serangan musuh. Sedangkan Pedang atau Tombak berada di tangan kanan berfungsi untuk melawan serangan musuh. Kedua senjata ini merupakan senjata utama yang digunakan kesatria Nias untuk berperang. Dan Lagi lagi Video Tari Perang Suku Nias.

Sparta Versi Indonesia Yang Ditakuti Belanda

Nias Sweet Home - Prosesi pertunjukan tarian ini dipimpin seorang Komando layakya strategis dalam perang yang dipimpin oleh seorang panglima. Kemudian akan memberi aba-aba kepada penari untuk membentuk formasi berjajar panjang yang terdiri dari empat jajar. Posisi komando berada di depan menghadap kearah penari. Tarian kemudian dimulai dengan gerakan kaki maju mudur sambil dihentakkan ke tanah dan meneriakkan kata-kata pembangkit semangat. Makna gerakan ini adalah kesiapan pasukan untuk maju ke medan perang dengan penuh semangat kepahlawanan. Kemudian diikuti dengan formasi melingkar yang bertujuan untuk mengepung musuh, setelah musuh terkepung para kesatria akan dengan mudah untuk melumpuhkan mereka.

di Suku Nias

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar Dunia Komputer

Gerakan Tari Perang atau yang sering disebut Tari Baluse sangat dinamis, hentakkan kaki yang diiringi oleh musik dan gerakan mengayunkan tombak dan pedang menggambarkan semangat para prajurit dalam mempertahankan kampung mereka dari serangan musuh. Tidak hanya itu saja, suara yang dipandu oleh para penari juga merupakan ekspresi ketangkasan dan kepahlawanan para kesatria.


Saohagolo.
Nias Sweet Home

Tari Maena, Simbol Sukacita Suku Nias

Maena

Suku Nias merupakan kelompok masyarakat yang tinggal di Pulau Nias, propinsi Sumatera Utara. Mereka memiliki sebuah tarian tradisional yang sejak dulu hingga kini tetap ditarikan yakni tari Maena. Suku Nias menjadikan tari Maena sebagai tarian kolosal yang penuh sukacita.  Tari Maena seringkali menjadi pertunjukan hiburan ketika suku Nias menyelenggarakan pesta pernikahan adat. Dalam upacara pernikahan adat, pertunjukan tari Maena diselenggarakan ketika mempelai lelaki tiba di rumah mempelai wanita. Tarian ini ditarikan oleh keluarga dari pihak mempelai lelaki untuk memuji kecantikan mempelai wanita dan kebaikan keluarga pihak wanita. Setelah mempelai lelaki, keluarga dari mempelai wanita pun menyambut kedatangan keluarga pihak lelaki dengan menyelenggarakan tari Maena.

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar Dunia Komputer



Tarian ini menjadi simbol untuk memuji mempelai lelaki beserta keluarganya. Sesekali, Tari Maena menjadi tari penyambutan tamu kehormatan yang berkunjung ke Pulau Nias. Dalam sebuah pertunjukan, tari Maena ditarikan oleh beberapa pasang penari lelaki dan wanita.  Dari awal hingga pertunjukan usai, gerakan tari Maena didominasi dengan perpaduan gerak tangan dan kaki. Gerakannya terlihat sederhana namun tetap penuh semangat dan dinamis.
Kesederhanaan gerak itulah yang membuat siapa saja termasuk anda dapat menjadi penari tari Maena. Tidak ada batasan berapa jumlah penari Maena. Semakin banyak peserta tari Maena, gerakan tari Maena semakin terlihat semangat.Daya tarik utama dari tari Maena yakni lantunan beberapa rangkaian pantun Maena. Pantun Maena disampaikan oleh satu atau dua orang pemain yang dalam bahasa Nias disebut Sanutuno Maena. Tidak semua orang dapat menjadi Sanutuno Maena. Seorang Sanutuno Maena harus fasih berbahasa Nias.

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar Dunia Komputer

Biasanya, yang menjadi Sanutuo Maena yakni tetua adat atau sesepuh suku Nias. Isi pantun disesuaikan dengan waktu pertunjukan tari Maena dipertunjukkan. Ketika tari Maena diselenggarakan pada pesta pernikahan, pantun biasanya berisi kegembiraan dan doa untuk kedua mempelai. Namun ketika tari Maena dijadikan tari penymbuta tamu kehormatan, pantun Maena menggambarkan rasa hormat warga Nias kepada tamu. Pantun Maena biasanya disampaikan pada awal pertunjukan.

Setelah Sanutuo Maena menyampaikan beberapa bait pantun, pertunjukan tari Maena dilanjutkan dengan nyanyian berbahasa Nias. Dengan lantang, para penari Maena menyanyikan beberapa syair lagu yang isinya disesuaikan dengan tema acara. Mulai dari awal penyampaian, lirik lagu dalam pertunjukan tari Maena tetaplah sama dan disampaikan secara berulang. Syair lagu itulah yang mengiringi gerakan para penari Maena hingga pertunjukan tari Maena usai.

Untuk menyaksikan pertunjukan tari Maena, anda dapat berkunjung ke Pulau Nias, propinsi Sumatera Utara. Anda dapat mengawali perjalanan menuju Pulau Nias menggunakan pesawat terbang dari Bandara Polonia Medan dan tiba di Bandara Binaka, Gunungsitoli.Perjalanan dari Medan menuju Gunungsitoli naik pesawat terbang, lebih kurang 50 menit penerbangan. Dari Bandara Binaka menuju pusat kota Gunungsitoli hanya membutuhkan waktu lebih kurang 10 menit perjalanan naik becak motor atau angkutan umum.

Ketika berada di Pulau Nias, tidak ada salahnya jika anda juga mencoba untuk mentarikan tari Maena bersama warga Nias dan para penari Maena. Untuk memperoleh informasi lebih lanjut tentang pertunjukan tari Maena, para pemandu wisata dari biro perjalanan wisata di Pulau Nias dapat membantu anda.

 Next time...
1.Tarian perang Nias
2.Tari Moyo
 

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar Dunia Komputer

Rumah Adat Nias

http://niassweethome.blogspot.co.id/

Rumah adat dan ukiran-ukiran batu tua dapat ditemukan di sekitar pulau bagian tengah. Beberapa dari rumah adat ini bahkan telah berusia 3.000 tahun.

desa di Nias dan melihat rumah dengan arsitektur unik yang telah dibangun sejak berabad-abad yang tahan gempa bumi. Rumah-rumahnya dibangun dengan pilar-pilar yang bertumpu pada bongkahan-bongkahan batu. Pilar-pilar ini dibangun dengan tumpukan-tumpukan batu yang miring yang menciptakan struktur 3 dimensi yang kuat, desain rumah seperti kapal kayu ini terinspirasi oleh kapal-kapal Belanda yang membawa rempah-rempah. Melihat ukiran kayu yang rumit setiap rumah penduduk. Desa Hilisimaetano di Selatan Nias memiliki lebih dari 100 rumah tradisional dengan ukiran khas Nias.
Rumah Adat Nias
Di dataran tinggi utama desa di sekitar Gomo memiliki contoh ukiran batu terbaik. Daerah ini meski sulit diakses, harus melewati hutan atau menumpang kendaraan orang setempat namun semua itu akan terbayar dengan pengalaman petualangan yang takan terlupakan di Pulau Nias dan menjadi kenangan yang bersifat pribadi dan unik tak terlupakan.Pusaka budaya Nias yang kaya terdiri dari kombinasi luas berbagai saujana (cultural landscapes) dengan bukti keberadaan situs-situs megalitik, desa-desa tradisional, arsitektur setempat yang menakjubkan dan keanekaragaman kerajinan tangan dan adat istiadat.
Di setiap Kabupaten Nias memiliki bentuk rumah adat yang berbeda-beda, baik segi ukiran dan bentuk. Gambar di atas merupakan salah satu Icon rumah Adat yang ada di pulau Nias.

Semoga Bermanfaat...!!!

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar Dunia Komputer

Museum Pusaka Nias


(Patung-patung leluhur koleksi musium Pusaka Nias)
Di kabupaten Nias, Gunung sitoli terdapat museum yang memiliki harta koleksi yang beragam dan berharga. Museum ini berdiri berkat kerja keras Pastor Johannes M. Hammerle, warga Negara Jerman yang sudah menetap di Nias 36 tahun dan menjadi Direktur Museum untuk mengoleksi benda-benda peninggalan budaya Nias. Jumlah koleksinya mencapai 6.500-an. Koleksinya terdiri dari artefak alat-alat rumah tangga, patung-patung megalith dari kayu dan batu, perhiasan, senjata tradisional, mata uang, pakaian adat, simbol-simbol kebangsawanan sampai rumah adat asli Nias yang disebut Omo Hada. Fasilitas-fasilitasnya adalah perpustakaan umum, meeting room, kantin, kebun binatang mini, sampai area rekreasi pantai.

Batu-Batu Megalit di GOMO yang Terlantar


Megalit terlantar
 Batu Megalit
Arca-arca batu berusia ratusan tahun bisa dijumpai di halaman-halaman rumah penduduk. Di Gomo setidaknya ditemukan 14 titik yang merupakan situs batu megalit. Tapi yang sudah dibuka untuk umum baru empat situs, semua yang telah dipugar pemerintah. Semua situs itu terletak di ladang dan hutan penduduk setempat di daerah Idanotai, Lahusa Satua dan Tundu Baho. Untuk menuju ke sana hanya bisa di tempuh dengan berjalan kaki atau kendaraan roda dua. Itu pun harus menyeberangi arus sungai dan jalan setapak di pegunungan yang kemiringan konturnya mencapai 45 derajat, sangat melelahkan memang.
Pengunjung bisa ber-snorkeling dengan nyaman dari pinggir dermaga yang ada dimuseum ini. Pusaka ini menarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, walaupun selama ini pariwisata budaya hanya menjadi kegiatan pinggiran dalam hal kontribusinya terhadap ekonomi setempat.

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar Dunia Komputer

Perlu di ingat warisan para leluhur ini perlu dilestarikan kenapa diluar pulau nias mereka bisa menjaga /melestarikan warisan leluhur mereka...? Kiata ambil contoh Balai pelestarian cagar budaya jogjakarta.
dan masih ada yang lainnya....

Semoga bermanfaat...!!!

Dua Upacara Penting Dalam Upacara Kematian


Ada beberapa upacara penting jika sebuah keluarga sedang berduka di suku nias.

a). Famalakhisisi/Fatomesa (Perjamuan terakhir)Famalakhisisi adalah perjamuan terakhir bagi orang tua yang sudah mau meninggal. Kata lain dari famalakhisisi ini adalah La’otome’õ (kata kerja) artinya dijadikan tamu, fatomesa (kata benda), orang yang sudah mau meninggal akan diupacarkan yang disebut laotome’õ.

Tradisi budaya Nias sampai hari ini masih melakukan ritual Famalakhisisi atau fatomesa ini. Ritual ini biasanya dilakukan pada orang tua yang sudah sakit-sakitan dan mau meninggal.

Famalakhisi (Perjamuan terakhir kali) diadakan bagi ayah yang sudah hampir tiba ajalnya oleh para putranya, setelah ia memberkati serta memberi doa restu kepada mereka. Pada kesempatan ini si ayah dihidangkan daging babi. Upacara ini harus dihadiri oleh putra-putranya terutama yang sulung, karena tanpa berkah doa restu ayahnya, kehidupan anak tersebut akan mengalami banyak rintangan.[18]

Klik disini untuk mendapatkan artikel menarik seputar dunia Komputer


Peranan anak laki-laki khususnya anak sulung sangat penting. Anak sulung dipandang sebagi pengganti Ayah dan menjadi pemimpin bagi saudara-saudaranya yang lain. Meskipun peranan anak perempuan tidak begitu ditekankan, tapi mereka wajib datang dan membayar utang mereka sama seperti saudaranya laki-laki.

Di saat-saat terakhir seperti ini, semua anak dan cucunya datang mengunjunginya. Kedatangan mereka pertama-tama adalah untuk memberikan penghormatan terakhir pada orang tua. Orangtua dalam perspektif orang Nias adalah Tuhan di dunia. Sebagai Tuhan yang tampak harus dihormati dan disembah. Maka berkat orang tua, khususnya saat akhir hidupnya diyakini sangat menentukan hidup mereka dikemudian hari.

Penjelasan Singkat Hombo Batu Atau Lompat Batu

 Penjelasan Singkat Hombo Batu Atau Lompat Batu

Hombo Batu Atau Lompat Batu

Nias Sweet Home - Fahombo atau biasa disebut Hombo Batu (lompat batu) merupakan tradisi dari daerah Kabupaten Nias Selatan (Teluk Dalam), yaitu salah satu kabupaten di Sumatera Utara yang terletak di pulau Nias. Tradisi Lompat Batu atau Hombo batu yang dilakukan oleh seorang pria yang mengenakan pakaian adat setempat Nias dan meloncati susunan batu yang disusun setinggi lebih dari 2 (dua) meter.

Artikel Menarik Lainnya :

Lompat Batu

Berdasarkan cerita rakyat setempat, ajang tersebut diciptakan sebagai uji fisik dan mental bagi para remaja pria di Nias menjelang usia dewasa. Setiap laki-laki dewasa yang ikut perang wajib lulus ritual lompat batu. Batu yang harus dilompati adalah berupa bangunan mirip tugu piramida dengan permukaan bagian atas datar. Tingginya kurang lebih 2 m (dua meter) dengan lebar 90 cm dan panjang 60 cm. Para pelompat tidak hanya sekedar harus melintasi tumpukan batu tersebut, tapi ia juga harus memiliki tekhnik seperti saat mendarat, karena jika dia mendarat dengan posisi yang salah dapat menyebabkan cedera otot atau patah tulang.

Jumping Stone

Selain sebagai penguji fisik dan mental bagi pemuda yang berhak mengikuti perang, Tradisi Fahombo ini juga dinilai sebagai syarat bagi mereka yang siap menikah, karena bagi mereka yang tidak berhasil melompati batu tersebut dianggap belum pantas untuk meminang seorang gadis. Begitu terkenalnya tradisi lompat batu ini membuat tradisi ini pernah diabadikan pada pecahan uang seribu rupiah pada awal tahun 1990-an dengan gambar seorang pria Nias yang sedang melompati tugu batu.


Saohagolo.
Nias Sweet Home

⇧
Top